Sudah menjadi hal yang wajar bagi seorang mahasiswa tingkat akhir untuk menjalankan salah satu mata kuliah wajib prasyarat munaqosyah atau kelulusan yaitu praktikum pengembangan masyarakat atau yang lebih akrab dikenal sebagai program Kuliah Kerja Nyata (KKN) . 


Dalam mata program KKN tersebut, mahasiswa diharuskan terjun langsung ke kehidupan masyarakat dengan membawa misi tertentu yang telah ditentukan oleh kampus. 


Adapun misi KKN UIN Salatiga pada 2023 yakni moderasi beragama, penyuluhan stunting, dan budaya lokal. Dari misi yang telah diberikan oleh kampus, maka mahasiswa KKN akan menyusun  program kerja yang dapat menyukseskan misi tersebut. 


Salah satu program kerja yang dibuat oleh mahasiswa KKN UIN Salatiga untuk menyukseskan misi yang ditentukan yaitu mengadakan  Pagelaran Seni, Budaya dan Peringatan Isra’ Mi’raj yang bertemakan Gala Nirwana. Kegiatan tersebut berlangsung di Desa Kebumen, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung. 


Acara tersebut menampilkan beberapa kesenian dan budaya lokal dari masyarakat Desa Kebumen antara lain seni tari soreng, tari topeng ireng, silat, macapat, rebana, angklung, paduan suara, dan musikalisasi puisi.


Dari sekian banyak kesenian yang ditampilkan, ada sebuah kesenian yang menarik perhatian penulis. Kesenian tersebut adalah tari soreng yang ditampilkan oleh anak-anak dari Dusun Kejasan. 


Hal menarik terkuak dari pementasan tari soreng tersebut. Diketahui oleh penulis dari penuturan ketua Dusun Kejasan, Pak Walno, bahwasannya di Dusun Kejasan sudah lama tidak pernah ada latihan bahkan pementasan tari soreng. 


Dengan kedatangan para mahasiswa KKN UIN Salatiga tahun 2023 menjadi salah satu faktor utama bangkitnya kesenian di Dusun Kejasan setelah sekian lama pupus.


Sebelum acara pementasan tari soreng, para penari yang terdiri dari anak-anak sekolah dasar dan sekolah menengah pertama dari Dusun Kejasan giat berlatih di Posko KKN mahasiswa UIN Salatiga. Hampir setiap malam, mereka mendatangi posko dan berlatih tari soreng hanya dengan menggunakan instrument musik.


Hal ini pula yang menjadi daya tarik penulis mengangkat cerita ini. Karena pada dasarnya seni tari soreng ditampilkan bersama dengan tabuhan asli dari gamelan, sedangkan untuk pentas tersebut tidak. Selain itu, anak-anak yang dipilih untuk menjadi penari juga telah memiliki darah seni dari para orang tuanya sehingga mereka cepat menangkap dan mempelajari gerakan-gerakan tari soreng yang ditampilkan dalam layar laptop mahasiswa KKN UIN Salatiga.


Kesenian merupakan warisan budaya lelulur yang sudah sepatutnya kita lestarikan dan kita banggakan. Sebagai generasi muda, kita dituntut untuk melek teknologi dan mengikuti tuntutan zaman. Tetapi akan lebih bijak ketika kita mampu menyeimbangkan antara intelektual dan moralitas agar tidak tergerus oleh kemajuan zaman. Salah satu upayanya yaitu dengan tetap nguri-nguri budaya negeri.   


-ditulis oleh Ngasrini, Mahasiswa Program Studi Tadris IPA UIN Salatiga. 

1 Komentar

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama