Temanggung, temanggungnews.id - Banyak teknik, cara atau metode menulis artikel ilmiah untuk tembus di databased Scopus, salah satunya melalui artikel dengan teknik Systematic Literature Review (SLR). Hal itu diungkapkan dosen Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung Hamidulloh Ibda, Jumat sore (14/4/2023).


Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Himpuan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung yang dikemas dalam kegiatan Diskusi Bareng Ramadan dan Buka Bersama bertajuk Teknik Systematic Literature Review (SLR).


"Selama ini Scopus masih ditakuti oleh mahasiswa baik S1 sampai S3. Karena hanya dianggap para dosen, doktor dan profesor, dan yang berlatar belakang pendidikan Bahasa Inggris yang mampu menembusnya. Buktinya, tidak, karena mahasiswa S1 Prodi PGMI FTK INISNU tahun 2022 juga bisa menembus Scopus Q3," kata Ibda dalam paparannya.


Pihaknya menegaskan bahwa Scopus merupakan databased, basis data, bisa disebut pengindeks sebagai rujukan dan abstrak milik Elsevier yang diluncurkan pada tahun 2004 yang selama ini menjadi syarat kenaikan jabatan akademik guru besar atau profesor dan lektor kepala. "Untuk lulus S3, banyak prodi S3 yang mewajibkan mahasiswa harus menulis artikel di jurnal internasional terindeks Scopus sebagai syarat ujian terbuka, yudisium atau syarat pengambilan ijazah sesuai capaian pembelajaran atau KKNI level 9," lanjut dia dalam kegiatan yang digelar di gedung Pascasarjana INISNU tersebut.


Ibda yang juga Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan INISNU Temanggung itu menegaskan, menulis artikel ilmiah dengan teknik SLR bisa dan sangat bisa untuk menembus Scopus, dan pihaknya telah membuktikannya selama dua tahun ini. Sejumlah teknik ia sampaikan kepada peserta. Pertama, penentuan masalah, tema atau topik yang menarik sesuai prinsip CCTE yang ia kutip dari pendapat Prof Irwan Abdullah yaitu setiap artikel harus memenuhi unsur Controversy, Change, Trend, Emergency, yaitu tema atau topik harus mengandung kontroversi, mengandung perubahan, isu yang sedang trending atau viral, atau tema-tema yang ada unsur kedaruratan atau urgensi.


Kedua, kata Ibda, pilih jurnal yang tepat dan disesuaikan dengan focus and scope. "Artikel kita bisa jadi menarik, tapi jurnal sasarannya tidak pas. Maka kalau saya, jurnal sasaran itu di awal. Kita bisa mempelajari tipe dan karakter artikel yang dimuat di sana. Dengan demikian, kita akan mudah menyesuaikan selera editor," tegas dia.


Ketiga, perlunya keunikan, distingsi dan novelty. "Meski artikel kita pakai teknik SLR bukan riset lapangan, kita harus menyuguhkan novelty. Maka kita harus menggunakan databased Scopus, jangan gunakan databased trivial seperti Google Scholar, Sinta, Neliti.com, atau Issuu," kata dia.


Keempat, bahasa yang digunakan harus bagus. "Jangan sampai terjemahan kita buruk. Selain konten, bahasa Inggris dalam penulisan artikel harus bagus. Kita bisa bersinergi dengan akademisi dari Pendidikan Bahasa Inggris atau proofreader profesional," lanjut dia.


Dalam kesempatan itu, pihaknya juga menjelaskan teknik penulisan artikel dengan SLR dan juga Protokol PRISMA agar artikel benar-benar sahih dan bagus secara konten dan metodologi. Ia juga bercerita tentang pengalaman menulis artikel dengan teknik SLR yang dua artikelnya telah dimuat di jurnal terindeks Scopus Q4 dan Q3, satu artikel terbit di jurnal terindeks Sinta 4, dan tiga artikel menunggu jadwal terbit di jurnal terindeks Scopus Q4, Q3 dan Q1.


Selama ini, Ibda selain aktif menulis di jurnal internasional bereputasi, ia juga aktif menjadi reviewer di jurnal internasional seperti menjadi  Reviewer Pegem Egitim ve Ogretim Dergisi yaitu milik Pegem Akademi Yayincilik Egitim Danismanlik Hizmetleri Turki yang terindeks Scopus Q4,  Reviewer Cogent Education milik Taylor & Francis Britania Raya yang terindeks Scopus Q2, Reviewer International Journal Ihya' 'Ulum al-Din, Reviewer IJSL: International Journal of Social Learning, dan reviewer di puluhan jurnal nasional terakreditasi SINTA. 


Pihaknya juga membeberkan, bahwa menulis artikel yang dapat tembus di jurnal internasional tidak ditentukan oleh jenjang pendidikan, status, namun lebih kepada keseriusan dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. "Kalau soal kuliah bisa dari S1, S2, S3 bahkan sampai menjadi profesor, itu asal ada kemauan, kesempatan mendapat beasiswa, pasti semua orang bisa mengakses pendidikan tinggi. Tapi tidak semua orang bisa menulis dengan baik, apalagi sampai di jurnal internasional. Buktinya, banyak para profesor ketika submit di jurnal internasional juga ditolak, dan saya meski belum lulus S3, Alhamdulillah dimudahkan Allah dengan mudah diterima, dan dipercaya menjadi reviewer di jurnal Scopus," papar dia.


Pihaknya berharap, agar mahasiswa bisa mengimplementasikan teknik SLR dalam penulisan artikel khususnya untuk mengerjakan tugas akhir skripsi maupun tugas akhir nonskripsi. (*)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama