SEMARANG, temanggung-news.id - Bertempat di Pesantren Riset Al-Khawarismi II Mijen, Kota Semarang, Prof. Dr. KH. Syamsul Ma'arif menegaskan bahwa metodologi penelitian sangat melimpah dan kita tinggal memilihnya. "Masing-masing metode memiliki kekurangan dan kelebihan. Bergantung kita mau fokus yang mana, apakah kuantitatif, kualitatif, ataukah mixed method," katanya dalam Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah dengan Teknik SLR untuk Submit di Jurnal Scopus pada Minggu malam (24/9/2023).


Pihaknya menjelaskan, salah satu tren metode riset adalah Systematic Literature Review atau SLR. Guru besar ilmu pendidikan Islam UIN Walisongo itu juga mencontohkan artikel dengan teknik SLR yang baru saja terbit berjudul "Islamic moderation in education and the phenomenon of cyberterrorism: a systematic literature review" di jurnal terindeks Scopus Q3 yang ditulis bersama Hamidulloh Ibda dan kawan-kawan. "Jadi ini tidak hanya mengidentifikasi terorisme, penyebarannya melalui teknologi, virus, tapi juga menyajikan solusinya melalui moderasi Islam. Jadi artikel dengan teknik SLR seperti inilah yang bagus dan bisa diterima jurnal Scopus karena memiliki tingkat kerumitan yang lumayan susah," katanya.


Sementara itu, dosen INISNU Temanggung Hamidulloh Ibda menyampaikan tujuan penelitian jika merujuk Giphart (1986) ada tiga yaitu, untuk memahami fenomena (need to know) membantu pelaksanaan pekerjaan (need to do) dan untuk memilih (need to choose) dan mengukur.


"Jika need to know ada tiga turunan yaitu kuantitatif, kualitatif, mixed method. Sedangkan need to do itu ada action research, R n D dan operation research. Sementara yang need to choose itu evaluation research dan policy research," kata dia.


SRL sendiri, katanya, merupakan genre riset untuk mengungkap tren, pola, temuan dan kesenjangan penelitian-penelitian, literatur atau paper-paper berkualitas tinggi dan disajikan hasilnya sesuai pertanyaan riset. "Systematic Literature Review itu teknik yang sistematis, berbeda dengan literature review biasa. Saya sarankan ketika menulis nanti menggunakan aplikasi, karena pengamatan saya, hampir 90 persen artikel yang dimuat di jurnal Scopus itu menggunakan aplikasi," kata dia.


Pihaknya bercerita banyak hal termasuk dalam menulis artikel SLR yang sudah terindeks Scopus. "Dokumen artikel saya sudah ada 7 di Scopus dan 5 itu adalah artikel SRL semua," kata dia.


Ibda sendiri telah menjadi reviewer pada sejumlah jurnal internasional terindeks Scopus, yaitu Pegem Egitim ve Ogretim Dergisi - Scopus Q4, Cogent Education - Taylor & Francis - Scopus Q2, Journal of Ethnic and Cultural Studies - Scopus Q1, Journal of Learning for Development (JL4D) - Scopus Q3, International Journal of Information and Education Technology (IJIET) - Scopus Q3, Millah: Journal of Religious Studies - Scopus, International Journal of Learning, Teaching and Educational Research (IJLTER) dan menjadi reviewer pada 20 jurnal nasional.


Usai pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab serta praktik menyusun dan menentukan topik atau tema, judul, dan pertanyaan penelitian berbasis teknik SLR. (*)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama