RADIKALISME DI INDONESIA MENYAMBUT 2024

Indonesia akan menyambut pesta demokrasi pada 2024 mendatang di mana bangsa ini akan memilih presiden serta wakil rakyat yang diharapkan dapat menentukan nasib negara di masa depan. Tentunya hal tersebut perlu disambut dengan positif oleh seluruh masyarakat. Akan tetapi, pemilu juga sarat akan konflik, seringkali hajatan lima tahunan tersebut menimbulkan perpecahan. Berkaca dari pengalaman pemilu atau pilpres pada 2014 dan 2019 pengerahan isu suku agama ras dan antargolongan (SARA) mengakibatkan berbagai gejolak sosial seperti halnya terorisme.
Melansir dari Detik News sejak Januari hingga Oktober 2023 Densus 88 telah mengamankan 104 tersangka teroris di beberapa wilayah Indonesia, hal itu diungkapkan juru bicara Densus 88 Kombes Aswin Siregar pada (3/11/23).
Tak hanya di dunia nyata, penyebaran radikalisme pun telah menyebar di dunia maya. Data Kementerian Kominfo, menunjukkan selama tahun 2018, sudah dilakukan pemblokiran konten yang mengandung radikalisme dan terorisme sebanyak 10.499 konten. Terdiri dari 7.160 konten di Facebook dan Instagram, 1.316 konten di Twitter, 677 konten di Youtube, 502 konten di Telegram, 502 konten di filesharing, dan 292 konten di situs website. Melalui data tersebut, kita pahami bahwa internet menjadi ladang terbesar dalam perkembangan bibit radikalisme dan terorisme.
Dengan mengkaji ulang sejarah perpolitikan, potensi munculnya kelompok radikal pada pesta demokrasi 2024 akan tetap ada. Oleh sebab itu, kita tidak boleh lengah, sehingga situasi ini justru dimanfaatkan kelompok tertentu untuk membuat kekacuan di bumi pertiwi ini. Salah satu yang harus diwaspadai adalah kejahatan terorisme.

RADIKALISME/TERORISME SECARA UMUM
Menurut para ahli, seseorang dapat terjerumus dalam kelompok terorisme disebabkan oleh beberapa faktor seperti masalah kemiskinan, pemahaman yang kurang sempurna tentang agama, politik serta ketidakadilan sosial. Jadi, apabila suatu negara sedang mengalami suatu konflik, maka hal itu menjadi sasaran empuk bagi Jaringan terorisme untuk melaksanakan perekrutan dan pengkaderan untuk memperbesar organisasinya. 
Isu tentang radikalisme telah menjadi salah satu hal paling menantang yang dihadapi berbagai negara dunia. Momen Pilpres dan Pemilu 2024 akan menjadi sasaran empuk bagi kelompok radikalis maupun teroris untuk memainkan isu SARA. Berbagai media akan mereka manfaatkan untuk menyebarkan informasi-informasi palsu atau hoaks agar masyarakat terprovokasi dan terpengaruh faham mereka.
Berbagai risiko yang mungkin terjadi perlu dianalisis dan dicegah agar tidak dimanfaatkan kaum intoleran. Berbagai wacana radikalisme yang dikemas dalam beragam jenis konten di jagat maya pun perlu ditindaklanjuti. Sebagai warga negara indonesia, kita dapat turut andil dalam melaporkan segala bentuk peredaran konten radikalisme maupun terorisme di media sosial. Bahkan bila perlu, kita bisa memeranginya dengan konten yang mengedukasi tentang bahaya radikalisme-terorisme. Seluruh elemen masyarakat harus turut berperan aktif dalam mengawasi dan melaporkan aktivitas yang mencurigakan disekitarnya.
Kita tidak boleh lengah untuk terus memerangi penyebaran terorisme di penjuru nusantara. Pemerintah wajib hadir di tengah masyarakat untuk meminimalisir segala konflik yang mengarah pada perpecahan bangsa dan negara. semua pihak harus bersinergi untuk persatuan Indonesia seutuhnya.
Seluruh elemen masyarakat harus bersinergi dan waspada, serta membangun pertahanan bersama terhadap paham radikal dan terorisme yang dapat mengganggu stabilitas negara karena hal ini dinilai sebagai salah satu kunci dalam memitigasi ancaman tersebut. 

PERANAN PEMUDA
Pemuda merupakan ujung tonggak negara. Maju atau tidaknya suatu negara di masa depan merupakan hasil bagaimana ia dididik. Ini merupakan tugas bersama baik pemerintah dan seluruh rakyat indonesia untuk mencegah dan melindungi generasi milenial dari paham radikal ekstrimis. 
Perlu diketahui, beda generasi maka beda pula cara yang mesti kita upayakan. Sejatinya, yang paling tahu bagaimana cara mengatasi permasalahan pada generasi muda adalah mereka sendiri. Dengan kata lain, untuk menangkal virus radikalisme di era sekarang, butuh peran aktif para generasi milenial.
Dalam memperkokoh milenial agar tidak terdampak radikalisme, upaya yang mesti ditempuh adalah mengisi ruang-ruang yang memiliki nilai-nilai moderat dan wawasan kebangsaan. Tentunya, hal ini juga perlu disesuaikan dengan minat generasi muda.
Dilansir dari loket.com, pembelian tiket presale BCA untuk konser Coldplay bertajuk “Music of the Spheres Wolrd Tour” yang dimulai pada 17 Mei 2023 lalu mencatat bahwa ada lebih dari 1.533.000 berpartisipasi memburu atau war tiket Coldplay tersebut. Ini baru satu konser saja, belum ratusan bahkan ribuan konser lainnya. Dalam merespon tingginya minat pemuda dalam bermusik, BNPT menggagas program “ASIK BANG”.
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) selaku lembaga yang bertanggungjawab melakukan pencegahan terorisme di indonesia, melalui program bertajuk Aksi Musik Anak Bangsa atau disingkat menjadi “ASIK BANG” mencoba mengajak para pemuda, mulai dari pelajar, mahasiswa dan masyarakat secara umum untuk hadir dan duduk bersama menolak aksi terorisme di tanah air tercinta.
Melalui kegiatan musik tersebut, diharapkan akan menarik minat masyarakat untuk mengenal lebih dekat apa itu BNPT, mengetahui bagaimana program kerjanya, sehingga akan muncul semangat dari anak bangsa untuk berpartisipasi dalam melakukan pencegahan terhadap terorisme. Sebab, tanpa bantuan dari semua eleman, tentu BNPT tidak akan bisa maksimal dalam menjalankan tugasnya.
Program Asik Bang tidak boleh hanya menjadi ajang unjuk kebolehan bagi para peserta untuk mencari menampilkan keahliannya dan menjdi juara, namun setelah itu tidak ada tindak lanjut atau kemanfaatannya sama sekali, akan tetapi BNPT wajib memberikan edukasi pada masyarakat agar selalu menjaga keutuhan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan cara bersatu dan bersinergi antar anak bangsa. 
Sebab, tanpa adanya persatuan, tidak mungkin bangsa ini akan menjadi kuat. Seperti halnya bermain musik, ada pemain drum, keyboard, gitar, vokalis dan lain sebagainya. Yang kesemuanya memiliki peran yang berbeda, Vokalis tidak boleh merasa lebih hebat dari pemain drum, pemain drum jangan beranggapan lebih bekerja keras ketimbang pemain keyboard dan lain sebagainya. akan tetapi harus berkolaborasi bersatu padu untuk menciptakan irama musik yang indah untuk didengar.
Begitu pula dalam berkehidupan di masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, ras dan agama. Pasti terjdi banyak perbedaan, terdapat bermacam golongan, partai politik, kelompok, organisasi dan budaya. Tidak boleh ada yang merasa golongannya lebih baik, lebih kuat daripada kelompok lain, semua memiliki peran masing-masing dalam kehidupan. Itulah yang harus ditekankan oleh BNPT, melalui musik hidup harus menjadi kompak.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama